SUMU dan JULEHA Gelar Pelatihan Penyembelihan Kurban: Cetak Juru Sembelih Profesional dan Sesuai Syariat
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Selasa, 3 Jun 2025
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
FAIUMBANDUNG.ID, Ambarawa — Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) Kabupaten Semarang bekerja sama dengan JULEHA Indonesia menyelenggarakan pelatihan penyembelihan hewan kurban yang sesuai syariat pada Sabtu, Mei 2025.
Kegiatan ini digelar di Masjid Darussalam, Losari Sawahan, Ambarawa, dan diikuti puluhan peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Semarang.
Ketua Takmir Masjid Darussalam Sumarno mengapresiasi kegiatan ini sebagai bentuk nyata dari upaya memakmurkan masjid. “Kami dari takmir sangat terbuka untuk kegiatan-kegiatan edukatif semacam ini,” ujarnya.
Koordinator SUMU Kabupaten Semarang Masayuki Ferrari menegaskan bahwa pelatihan ini bertujuan agar masyarakat memahami bahwa proses penyembelihan kurban bukan sekadar teknis, tetapi juga menyangkut adab, etika, dan syariat.
“Hewan adalah makhluk hidup yang harus diperlakukan dengan tenang dan penuh kasih sayang saat disembelih,” katanya.
Pelatihan ini menghadirkan pemateri berkompeten di bidangnya, yakni Heru Abdul Rozaq yang menyampaikan materi fikih kurban dan Nurdjanan M Arifin dengan materi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).
Kemudian dilanjutkan dengan Joni Ahmad dan Sunardi yang membahas manajemen kurban. Sunardi sendiri merupakan Ketua JULEHA Kabupaten Semarang.
Dalam sesi fikih kurban, Heru menekankan bahwa ibadah kurban merupakan sunah muakkad yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang mampu.
Ia menjelaskan bahwa penyembelihan harus memperhatikan waktu yang telah ditentukan, yakni sejak selesai salat Idul Adha tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah, serta memenuhi syarat seperti jenis hewan, umur, dan kesehatan.
“Penyembelih harus seorang Muslim, berakal, menyebut nama Allah saat menyembelih, menggunakan alat yang tajam, serta tidak membuat hewan stres atau tersiksa,” jelas Heru.
Sementara itu, Nurdjanan M Arifin menyoroti pentingnya SKKNI dalam meningkatkan profesionalisme juru sembelih halal. Ia menyebutkan bahwa unit kompetensi yang harus dimiliki antara lain persiapan alat dan lokasi, penanganan hewan sebelum dan sesudah disembelih, penerapan animal welfare, serta kepatuhan terhadap prinsip ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal).
“Materi ini sangat penting bagi peserta untuk bisa mengikuti sertifikasi resmi LSP JULEHA dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap proses penyembelihan,” ujarnya.
Adapun dalam sesi manajemen kurban, Joni Ahmad dan Sunardi memaparkan pentingnya pengelolaan kurban yang baik sebagai ibadah yang bernilai spiritual, sosial, dan ekonomi.
Mereka mengulas secara rinci mulai dari pendataan pekurban, pembelian hewan dari peternak terpercaya, pengelolaan keuangan secara transparan, hingga sistem distribusi daging yang rapi dan modern.
“Kami juga mendorong inovasi seperti kurban kolektif digital, pengemasan daging siap saji, serta pemberdayaan UMKM dalam pengolahan daging kurban,” tambah Sunardi.
Menutup kegiatan, Masayuki Ferrari mengajak seluruh peserta untuk bergabung dalam jaringan Serikat Usaha Muhammadiyah. “Kami terbuka bagi siapa saja yang ingin memperluas jejaring usaha dan kolaborasi, khususnya di Kabupaten Semarang,” tandasnya.
Acara ditutup dengan foto bersama, pembagian sertifikat kepada seluruh peserta, serta pemberian hadiah bagi peserta terbaik.***(Soleh)
- Penulis: Feri Anugrah