Kader Aisyiyah Harus Siap Pimpin Perubahan di Berbagai Lini
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Kamis, 17 Jul 2025
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
FAIUMBANDUNG.ID, Bandung – Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Rohimi Zamzam menegaskan pentingnya kepemimpinan perempuan dalam dinamika gerakan Aisyiyah di forum penguatan ideologi persyarikatan yang diselenggarakan oleh Unit SDM Perempuan UM Bandung.
Dalam paparannya, Rohimi menyampaikan bahwa eksistensi Aisyiyah selama lebih dari satu abad adalah bukti kekuatan ideologi gerakan Islam berkemajuan yang dijalankan dengan komitmen, keikhlasan, dan kepemimpinan transformatif dari para kadernya.
“Perempuan di Muhammadiyah dan Aisyiyah bukan hanya pendukung, melainkan aktor utama perubahan. Mereka harus berani tampil di ruang publik dan memimpin di berbagai lini,” ungkap Rohimi dalam sesi seminar yang digelar oleh LPPAIK UM Bandung pada Rabu (16/07/2025).

Seminar tersebut bertajuk “Penguatan Ideologi Persyarikatan Unit SDM Perempuan dan Pemebentukan Aisyiyah Komunitas UM Bandung”.
Ia menekankan bahwa dalam struktur Aisyiyah, terdapat tiga fungsi utama kepemimpinan yang harus dijalankan secara beriringan. Pertama, fungsi pelayanan umat. Kedua, fungsi strategis organisasi. Ketiga, fungsi regulasi kelembagaan.
“Pimpinan Aisyiyah harus hadir di tengah masyarakat, menjadi motivator, dan agen pemberdayaan. Kepemimpinan yang menggerakkan lahir dari teladan dan aksi nyata,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti tantangan kaderisasi di internal Aisyiyah. Meski potensi kader tersebar di berbagai bidang dan komunitas, banyak di antaranya belum teroptimalkan.
Oleh karena itu, perlu penguatan pilar-pilar kaderisasi, mulai dari pimpinan, amal usaha, ortom, keluarga, profesi, hingga komunitas.
“Kita memiliki sumber daya luar biasa, ada guru, dosen, dokter, pengusaha, bahkan paralegal. Semua itu harus dirangkul dalam kerangka kepemimpinan yang kolaboratif, kolegial, dan profetik,” terang Rohimi.
Dalam penutupnya, ia mengingatkan kembali nasihat luhur Nyai Ahmad Dahlan kepada para kader.

“Jangan pernah menduakan Muhammadiyah, jangan sombong saat mendapat pujian, dan jangan sakit hati ketika mendapat kritik. Berjuanglah dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh,” katanya tegas.
Acara ini diharapkan menjadi cikal bakal gerakan perempuan kampus yang aktif, terorganisir, dan kontributif dalam menjawab tantangan zaman dengan semangat Islam berkemajuan.***(FK)
- Penulis: Feri Anugrah