Bedah Buku Haji Fachrodin, IMM Tekankan Pentingnya Literasi dan Kesadaran Sosial
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Rabu, 4 Jun 2025
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
FAIUMBANDUNG.ID, Bandung – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Fakultas Sosial dan Humaniora (FSH) bersama Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar acara bedah buku “Haji Fachrodin: Lokomotif Literasi dan Pers Islam” karya Dr Roni Tabroni MSi.
Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat dengan tokoh penting dalam sejarah literasi dan pers Muhammadiyah. Bedah buku ini digelar di lantai dua gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, pada Selasa (03/06/2025).
Dalam pemaparannya, Roni menyampaikan bahwa motivasi utama penulisan buku ini muncul dari minimnya kajian terhadap sosok Haji Fachrodin.
Padahal, sosok Haji Fachrodin sebenarnya memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan literasi dan pers Islam, khususnya di persyarikatan Muhammadiyah.
“Saya melihat Fachrodin itu sosok yang luar biasa di Muhammadiyah, tetapi jarang dikaji, ditulis, dan didiskusikan. Padahal, dia sangat menginspirasi,” ungkap Roni.
Dosen program studi Ilmu Komunikasi ini menambahkan bahwa Haji Fachrodin adalah tokoh utama pers Islam di Indonesia. Menurut Roni, sosok Haji Fachrodin telah memberikan teladan besar dalam dunia jurnalistik.
“Hidupnya didedikasikan untuk perjuangan jurnalistik yang mampu mencerahkan dan memberi inspirasi kepada masyarakat. Jurnalisme Islam tidak hanya soal keagamaan, tetapi mencakup isu kebangsaan, sosial, dan lingkungan,” imbuhnya.
“Oleh karena itu, peran Haji Fachrodin dalam dunia jurnalisme penting untuk dipelajari agar dapat terus menginspirasi generasi jurnalis berikutnya,” tegas Roni.
Roni berharap pemikiran Haji Fachrodin semakin banyak dibicarakan dan mampu menginspirasi generasi muda Muhammadiyah, khususnya kader IMM, untuk melahirkan karya jurnalistik yang kritis dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Ketua Pelaksana Bedah Buku Ariel Raditya menyampaikan bahwa acara ini lahir dari inisiatif komunitas literasi IMM sebagai upaya memperkuat budaya membaca dan berpikir kritis di kalangan mahasiswa.
“Kami ingin memperkuat kemampuan berliterasi, khusunya di UM Bandung. Literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi kemampuan membaca situasi di sekitar,” katanya.
“Tema berani berpikir kritis di tengah budaya instan, melatih otak untuk tidak cepat percaya, diangkat agar mahasiswa tidak mudah percaya begitu saja terhadap suatu informasi, melainkan mampu menelaah dan mengkaji relevansinya secara mendalam,” jelas Ariel.
Meski sempat menghadapi kendala komunikasi dan keterbatasan panitia, acara tetap berjalan dengan lancar. Maka dari itu, dirinya berharap pesan utama dari seminar ini, yakni membaca (iqra) dan berpikir kritis, dapat tersampaikan dengan baik.
Salah satu peserta seminar menyampaikan bahwa acara ini sangat bermanfaat karena membuka pemahaman tentang makna berpikir kritis secara utuh.
Ia menyebutkan bahwa banyak mahasiswa yang masih belum memahami arti berpikir kritis. Mereka sering mengira bahwa berpikir kritis hanya sebatas membantah pendapat orang lain.
“Padahal, berpikir kritis berarti belajar memahami dulu suatu teori, lalu merekonstruksinya sehingga muncullah sebuah teori baru yang sesuai dan faktual dengan kondisi saat itu,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya seminar semacam ini untuk menumbuhkan kesadaran mahasiswa sebagai agen perubahan dan kelompok masyarakat terdidik.
“Mahasiswa di sini perlu memperdalam literasinya dan kritis itu sendiri. Sebagai agen perubahan sosial, bukan cuma kuliah dan belajar doang,” tutupnya.
Dengan terselenggaranya acara ini, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah FSH dan FST berharap semangat literasi dan jurnalisme yang digagas dan dicontohkan Haji Fachrodin dapat terus hidup di kalangan mahasiswa serta mendorong gagasan-gagasan yang mencerahkan di masa depan.***(Abdul/Himaya/Bewara)
- Penulis: Feri Anugrah