Sholat merupakan ibadah yang diwajibkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, yang dituangkan di dalam al- Qur’an . sholat yang sering dipahami sebagai sarana pembentuk kepribadian seseorang, dengan sholat seseorang dipastikan menjadi pribadi yang baik. Hal ini berangkat dari pemahaman seseorang dalam memahami teks al-Qur’an yang tertuang dalam surat al –Ankabut ayat 45, yang artinya, “Dirikanlah sholat, Sesungguhnya sholat dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar”.

Namun apabila kita lihat dalam kehidupan sehari – hari, tentunya ada orang yang terlihat mengerjakan sholat dalam kehidupannya, tetapi masih senang dengan  perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu wata’ala, artinya dia masih senang melakukan maksiat kepada Allah, hubungan dengan tetangganya tidak baik, bahkan dia ,merasa paling dicintai oleh Allah, sehingga ia takabur, membanggakan diri di hadapan orang lain.

Belum lagi para koruptor yang tertangkap oleh Lembaga anti riswah, tidak jarang menunjukan sisi kereligiusitasannya dengan mengerjakan sholat, artinya sholat hanya dijadikan topeng semata, untuk menutupi keburukannya. Pertanyaannya apakah ayat yang disampaikan oleh Allah dalam surat al-Ankabut ayat 45 itu salah? Dan apakah hadits Rasulullah yang artinya “Jika sholat seseorang baik, maka baiklah amalnya” itu tidak tepat?  karena tidak semua orang yang melaksanakan sholat, ahklaknya sesuai dengan norma – norma yang ada.

Tentu pertanyaan di atas, tidaklah pantas dilontarkan oleh manusia yang dilahirkan dari setetes air hina (). Pemahaman kitalah yang patut dipertanyakan terhadap penafsiran ayat tersebut. Dalam surat al-Luqman ayat 17, yang artinya (Lukman menasihati putranya:) “Hai Anakku, dirikanlah shalat dan perintahkanlah (kepada manusia) untuk mengerjakan yang makruf dan cegahlah (mereka) dari berbuat mungkar. Dan bersabarlah terhadap apa yangmenimpa kamu. Sesungguhnya, itu termasuk urusanurusan yang tegas (diwajibkan oleh Allah).”

Tampak dari ayat di atas, perintah untuk mengerjakan sholat, terpisah dengan perintah mengerjakan ma’ruf dan mencegah yang munkar, artinya tidak otomatis orang yang mengerjakan sholat, hal ini dapat kita lihat dari sabda Nabi Muhammad Sallahu a’laihi wassalam, yang berbunyi “Lâ shalâta li man la tanhâhu shalâtuhu ‘anil fahsyâ’I wal munkar”, yang artinya “Tak melakukan shalat orang-orang yang shalatnya tak menghindarkannya dari kekejian dan kemungkaran”.  Dapat kita simpulkan bahwa orang yang mengerjakan sholat akan termanifestasi dalam akhlak , yang ia tampilkan dalam kehidupan sehari – hari. Imam Ja’far Al- Shadiq menjelaskan lebih jauh dalam hal ini “Ketahuilah bahwa sesungguhnya shalat itu merupakan anugerah Allah untuk manusia, sebagai penghalang dan pemisah (dari keburukan). Oleh karena itu, sesiapa yang ingin mengetahui sejauh mana manfaat shalatnya, hendaklah ia memerhatikan apakah shalatnya mampu menjadi penghalang dan pemisah dirinya dari perbuatan keji dan mungkar. Shalat yang diterima (oleh Allah) adalah hanya sejauh yang mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar.”

Dari penjelasan Imam Ja’far al-Shodiq tersebut, kita dapat pahami bahwa sholat sebagai penghalang atau pemisah, sehingga penulis tegaskan kembali bahwa nilai manfaat dari sholat, adalah berusaha untuk tidak melakukan kekejian dan kemunkaran. Karena dengan sholat kita merasa kecil dan tak berdaya dihadapanNya. Maka apalagi yang kita bisa perbuat, selain menaati seluruh perintahNya, dan menjauhi seluruh laranganNya. Dan orang – orang yang masih senang menikmati perbuatan yang keji dan munkar adalah mereka yang mengerjakan sholat seperti burung mematuk makanannya, sebagaimana yang disingung oleh Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya ““Tak akan diterima shalat seseorang yang dilakukan bagai seekor burung yang mematuk-matuk makanannya.”  Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *