Oleh Hendriana

Mahasiswa STAI Muhammadiyah Bandung

 

Maraknya kaum ekstrimis agama yang bermunculan menjadi satu kegagalan pemahaman dan implementasi agama, agama yang menjadi salah satu rule bagi manusia dalam menjalankan kehidupannya, dengan agama, seruan – seruan tentang kebaikan dilakukan, seruan untuk menjauhi sifat kasar, seruan untuk menjadi pribadi yang senantiasa berkasih sayang terhadap sesama manusia, hewan dan tumbuhan, seruan untuk menyucikan diri dengan segala ritual yang terdapat didalamnya, Fazlur Rahman memandang bahwa seruan ini yang akan merubah tatanan social yang buruk menjadi baik.

Tidak ada agama yang mengajarkan tentang keburukan, setiap  agama mengajarkan kebaikan untuk dilakukan oleh penganutnya,termasuk Islam, Islam yang saat ini seakan didekontruksi dengan dituduh agama yang mengajarkan kekerasan,intoleran, dan lain sebagainya, sehingga citra Islam menjadi buruk. Dengan munculnya gerakan ekstrimis yang berbenderakan Islam tersebut jelas merusak citra Islam, mengapa kemudian gerakan tersebut bisa muncul begitu saja ? Yusuf Qordhowi menjelaskan bahwa gerakan ekstrimis muncul disebabkan oleh banyak hal, salah satunya, lemah dalam memandang hakikat agama Islam, pembacaan – pembacaan nash yang setengah – setengah, sehingga nash – nash yang hakikatnya mengajarkan kebaikan, karena pengetahuan yang didapatkan hanya bacaan tersebut, maka lahirlah penafsiran yang menimbulkan perbuatan yang ekstrem.

Abu Ishaq Al-syathibi memandang lebih dalam lagi, bahwa ada sebagian golongan yang mengklaim dirinya sebagai ahli tafsir atau ahli ijtihad dalam agama, ketika ditanya ,dia memberikan fatwa tanpa ilmu dalam golongannya, sehingga dia dan kelompoknya menjadi tersesat, hal ini ternyata telah diisyaratkan oleh Rasulullah Salallahu alaihi wassalam dalam hadits yang diriwayatkan dari, Abdullah bin Umar R.A “Allah SWT, tidak akan mencabut ilmu dengan cara mencabutnya sekaligus dari manusia, tetapi mewafatkan para ulama (ahli ilmu), sehingga apabila sudah tidak ada lagi orang – orang berilmu, manusia akan menunjuk orang – orang bodoh untuk dijadikan pemimpin, dan saat ditanya, mereka akan menjawab tanpa ilmu. Dengan demikian mereka tersesat dan orang disekitarnyapun tersesat” (HR Bukhari dan Muslim)

Agar tidak terjerumus dalam hal tersebut, kita perlu berguru kepada orang – orang yang memang faham betul tentang  hakikat agama, dalam tafsir misalnya, kita harus berguru kepada orang yang memiliki spesifikasi atau kemampuan untuk menafsirkan, dengan melihat kemampuan orang tersbut dalam bahasa arab, selain itu, Fazlur Rahman memandang perlunya mufasir , memahami makna yang diberikan dengan mengkaji situasi historis atau masalah yang telah diberi jawaban, melakukan generaisasi atas jawaban spesifik dan mengartikulasinya sebagai pernyataan mengenai tujuan moral – social yang bisa “disaring” dari teks spesifik dengan memperimbangkan latar belakang sosio – historisnya, serta diwujudkan dalam konteks sosio – historis yang kongkrit pada saat ini. Dengan spesifikasi tersebut tentu tidak akan menimbulkan penafsiran yang melahirkan perbuatan buruk hingga gerakan – gerakan ekstrim yang muncul. Namun bagaimana apabila tidak ada orang yang memiliki kemampuan tersebut disekitar lingkungan kita, maka baca tafsir – tafsir yang sudah ada, dengan mempertimbangkan sebab – sebab turunnya ayat dan konteks hari ini. Dengan hal tersebut setidaknya kita paham lebih dalam tentang hakikat agama yang kita anut, yang mengajarkan tentang kebaikan, sehingga implementasinyapun tidak mungkin menimbulkan perbuatan buruk, karena hal tersebut jelas bertentangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *