Umat Islam beberapa waktu kebelakang telah melaksanakan ritual tahunan pada Hari Raya Iedul Adha, terdapat beberapa ritual ibadah yang ada didalamnya, salah satunya adalah berqurban, para pedangang hewan qurbanpun sudah menutup lapaknya di pinggiran – pinggiran jalan, adanya syariat qurban ini tentunya membawa berkah tersendiri bagi penjual hewan, hewan yang tadinya bisa jadi sukar untuk dijual, di bulan ini sangat mudah untuk menjualnya, harganyapun ikut melambung tinggi selaras dengan permintaan pasar yang sangat tinggi, Yah ini memang salah satu berkah sekaligus karunia yang sangat besar yang dilahirkan oleh syariat. Selain itu sesuai dengan pengkategorian ibadah yang dilakukan oleh Ulama bahwa kurban ini masuk kepada ibadah Maliyyah yang pahalanya hingga 700 kali lipat, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 261, yang dijelaskan didalamnya, bahwa harta yang dikeluarkan oleh seseorang dijalan Allah diibaratkan sebutir benih yang akan menumbuhkan tujuh bulir dan pada setiap bulir terdapat seratus biji. Namun sangat disayangkan terkadang banyak yang memahami qurban hanya sebagai penyembelihan hewan pada 10 hingga 13 Dzulhijjah, apabila melihat kata dasar dari qurban adalah qaraba, yaqrabu,qurbanan yang berati pendekatan yang sempurna.

Ada beberapa penggunaan kata ini didalam Al qur’an, misalnya dalam surat Al Baqarah ayat 186, dalam ayat tersebut Allah memakai kata Qoriib yang artinya sangat dekat. Quraish Shihab memahami kata qurban ini bahwa seorang yang berkurban adalah orang sedang mendekatkan diri dengan Tuhannya secara sempurna, maka dari itu pendekatan yang sempurna itu harus diwujudkkan dalam bentuk hewan yang sempurna pula, hewan yang sempurna itulah yang disebut pengorbanan. Karena ketika seseorang yang ingin mendekat kepada suatu objek tentu harus berjalan untuk mendekatinya, seseorang yang ingin menyembah Allah di Mesjid maka pengorbanannya adalah harus mengambil waktu yang bisa saja dimanfaatkan untuk keperluan lain. Sedangkan hewan yang sempurna untuk dikurbankan menurut hadits yang harus dari Bara ‘Ibn ‘Azib Radiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah adalah hewan yang tidak buta dan jelas ketidak butaannya, hewan yang tidak sakit dan jelas ketidaksakitannya, hewan yang tidak pincang dan jelas ketidak pincangannya serta tidak kurus kering dan bersih. Syarat – syarat itulah yang harus dipenuhi oleh orang yang hendak berkurban. Karena hal tersebut merupakan wujud ketaqwaan bagi seorang muslim, apapun syarat berkurban bagi yang bertaqwa kepada Allah tidak menjadikan suatu permasalahan baginya. Ketaqwaan ini digambarkan dalam surat As Shafaat ayat 102 hingga ayat 107, dalam gambaran tersebut, diceritakan ketaqwaan Nabi Ibrahim yang harus rela menyembelih anaknya Nabi Ismail yang digantikan oleh kibas yang sangat bagus dan gagah oleh Allah SWT, ketaqwaan keduanya berlanjut hingga Ismail kecil menjadi Nabi Allah dan mengakhiri hidunya.

Maka menurut pandangan penulis orang yang berkurban harus membawa semangat berkurban di Hari Raya dalam kehidupan sehari – hari, karena dengan berkurban itulah dia menunjukan untuk siap mengorbankan segala yang dia miliki di jalan yang Allah ridhoi, yang tentunya harus dibarengi dengan niat karena Allah, jangan sampai pelaksanaan kurban ini dilaksanakan hanya karena kebiasaan dalam terperangkap ke dalam formalitas agama yang bersifat kontemporer, Ali haidar mengatakan dalam kitabnya durar hukam bahwa ibadah yang hanya karena kebiasaan dan tidak didasari oleh niat hanya kepada Allah maka perbuatan tersebut tertolak sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al Bayinah : 5, dan juga harus didorong dengan keikhlasan yang mendasari hati karena tidak ada perkara kecuali dengan niat kepada Allah dan mengikhlaskan setiap amal perbuatan hanya untuk Allah. Dan untuk para penerima daging kurban harus menjadikan momen ini  sebagai semangat untuk sama – sama bangkit dari keterpurukan, jangan hanya menjadi penerima saja, tetapi menjadi pemberi itu lebih baik bagi seorang Muslim, sesuai dengan semangat Al Qur’an, dan hadits Al yadul ula min yadul sulfa (Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah).Wallahu ‘alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *